Kamis, 25 Januari 2018

Penjelasan Sains Tentang Apakah Mungkin Perjalanan Waktu

Penjelasan Sains Tentang Apakah Mungkin Perjalanan Waktu

Perjalanan menjelajah waktu adalah salah satu tema yang sering diangkat dalam novel atau film saja. Baik berkelana ke masa depan maupun memutar kembali ke masa lalu menjadi bahan cerita yang apik.

Sebut saja film "Back to the Future" atau novel berjudul "The Time Traveler's Wife" yang mengangkat tema perjalanan waktu.

Berbeda dengan film dan novel di atas yang memang merupakan fiksi, beberapa tahun terakhir, banyak orang mengklaim bahwa dirinya adalah seorang penjelajah waktu atau time traveler. Beberapa hari lalu misalnya, seorang pria di Los Angeles, AS mengklaim bahwa dirinya berasal dari masa depan.

Dalam sebuah video yang diunggah di youtube, pria tersebut menyebut bahwa 3.000 yang akan datang kota Los Angeles, AS akan menjadi kota bawah air.

Hal ini tentu segera menjadi kegaduhan di dunia maya. Tapi benarkah perjalanan waktu mungkin dilakukan?

Mungkin Dilakukan

Secara teoretis, profesor Stephen Hawking dan Profesor Brian Cox percaya bahwa berpergian dengan kecepatan cahaya bisa mendorong manusia ke masa depan.

" Perjalanan waktu pernah dianggap sebagai ajaran sesat. Dulu sayang menghindari membicarakannya karena takut dilabeli sinting. Tapi akhir-akhir ini, saya tidak terlalu berhati-hati. Sebenarnya saya terobsesi oleh waktu," ungkap Hawking dikutip dari The Sun, Jumat (16/02/2018).

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Profesor Cox.

"Perjalanan waktu ke masa depan adalah mungkin. Sebenarnya, ini adalah bagian intrinsik dari cara alam semesta dibangun. Kita semua adalah penjelajah waktu dengan cara kita sendiri," kata Profesor Cox.

Tak hanya itu, berdasarkan teori relativitas khusus milik Albert Einstein yang diterbitkan pada 1905 menjelaskan, benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya akan mengalami waktu yang melambat.

Dengan kata lain, orang yang bergerak sangat cepat (dengan kecepatan cahaya) akan melihat waktu mereka melambat. Tapi hal ini tidak berlaku untuk orang yang bergerak normal.

Menurut teori relativitas khusus, semakin cepat Anda bergerak melalui ruang angkasa, semakin lambat pengaruh waktu pada Anda dibanding obyek-obyek yang masih berdiri.

Contohnya, jika pergi dengan pesawat ruang angkasa mendekati kecepatan cahaya (299.337 kilometer per detik), maka sepertinya mungkin beberapa tahun lagi Anda akan sampai di bumi dan menemukan saudara kembar Anda yang jauh lebih tua. Hal ini telah diuji coba oleh NASA dan disebut paradoks kembar.

Semua pendapat tersebut mendukung bahwa perjalanan waktu sangat mungkin dilakukan. Hanya saja, hal ini akan memerlukan energi yang luar biasa.

Meski begitu, Profesor Ronald Mallett, seorang ahli fisika yang juga tertarik mengungkapkan bahwa dirinya optimis dengan penjelajahan waktu.

"Bergantung pada terobosan (teknologi) dan pendanaan, saya percaya manusia yang bisa menjelajah waktu akan terjadi pada abad ini," ujar Profesor Fisika di University of Connecticut, AS tersebut.

Tantangan Penjelajahan Waktu

Nah, sekarang pertanyaan selanjutnya jika memang perjalanan waktu mungkin adalah bagaimana mendorong manusia bergerak pada kecepatan cahaya tanpa membunuh mereka?

Peneliti dari Organisasi Penelitian Nuklir Eropa (CERN) menyebut bahwa mereka telah mendorong partikel kecil dengan kecepatan cahaya menggunakan Large Hadron Collider. Sayangnya, masih membutuhkan perjalanan panjang untuk melakukan hal tersebut pada manusia.

Teori lain adalah menggunakan lubang cacing di luar angkasa untuk memindahkan manusia dari satu titik ke titik lain di antariksa secara instan. Teori ini dikembangkan oleh Kip Thorne, fisikawan di California Institute of Technology (Caltech) pada 1980-an.

Thorne percaya bahwa manusia di masa depan harus membangun lubang cacing sendiri untuk menjelajah waktu.

Di samping bergerak dengan kecepatan cahaya yang berisiko "membunuh" manusia, tantangan perjalanan waktu juga terjadi dari penuaan.

Dilansir dari Mirror, Rabu (21/02/2018), berpergian ke masa depan mungkin bisa dilakukan dengan mengalahkan proses penuaan. Tapi sayangnya, kembali ke masa lalu dianggap tidak memungkinkan.

Itu karena teori relativitas khusus Einstein juga disertai dengan relativitas umum yang menyatakan bahwa waktu dan ruang sebenarnya adalah hal yang sama dan keduanya dipengaruhi gravitasi.

Meski secara teori bergerak melalui lubang cacing mungkin, tapi dalam prakteknya, hal ini bertentangan dengan peraturan termodinamika.

Dalam teori termodinamika, sistem tertutup beralih dari keteraturan menjadi gangguan yang mencegah terbentuknya loncatan waktu dekat.

Artinya, teori ini mengungkapkan bahwa penjelajahan waktu tidak mungkin terjadi. Kecuali manusia masa depan entah bagaimana dapat melakukan perjalanan lebih cepat daripada cahaya atau mengubah hukum termodinamika.

Senin, 22 Januari 2018

Kunci & Evolusinya Merupakan Penemuan yang Mengubah Dunia

Kunci & Evolusinya Merupakan Penemuan yang Mengubah Dunia

Saat membaca artikel ini, hampir pasti Anda memiliki sebuah benda kecil, terbuat dari logam, dan berlekuk yang disebut dengan kunci. Ya, kunci memang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari manusia.

Meski kunci sering dianggap sebagai benda remeh, kehilangan kunci bisa menjadi "bencana". Itu karena kunci merupakan salah satu pengaman. Mulai dari pintu, kendaraan, hingga brankas memiliki kunci masing-masing.

Bentuk kunci pun kian beragam. Tak hanya berbahan logam, saat ini kartu, sidik jari, bahkan retina mata manusia bisa menjadi kunci.

Ini menandai bahwa kunci dari waktu ke waktu terus berkembang. Tapi, yang membuat penasaran adalah sejak kapan kunci digunakan?

Sejak ribuan tahun lalu, manusia selalu menginginkan sebuah kemampuan untuk melindungi barang berharga mereka. Tak hanya itu, saat itu banyak orang yang ingin menyimpan benda berharga di tempat yang tidak seorang pun bisa mengaksesnya.

Untuk itu, para ilmuwan menciptakan kunci pertama di dunia.

Zaman Kuno

Kunci pertama di dunia terbuat dari kayu yang tercipta sekitar 6.000 tahun lalu di Babilonia dan Mesir Kuno. Hal ini tertuang dalam sebuah lempengan tanah liat yang ditemukan oleh para arkeolog.

Sayangnya, kunci ini mudah rusak karena bahannya memang rentan. Ditambah lagi, pada gambar di lempengan tersebut, kunci berukuran sangat besar dan berat sehingga tidak praktis.

Selanjutnya, kunci kayu tersebut terus berkembang hingga ke Kerajaan Asiria, tepatnya di kota Khorasabad atau yang kini dikenal sebagai negara Irak. Kunci tersebut diperkirakan berasal dari tahun 704 Sebelum Masehi (SM).

Pada abad kuno, perkembangan kunci hanya menyebar dan melintasi wilayah Timur Tengah. Sebab, teknologi ini tak disukai oleh negara Barat saat itu.

Meski begitu, lama kelamaan kunci menyebar dari Mesir ke Yunani dan akhirnya ke Kaisaran Romawi. Di Romawi inilah kunci mengalami perubahan desain.

Orang Romawi tak lagi menggunakan kayu, melainkan besi dan perunggu. Pemilihan ini karena mereka ingin menciptakan kunci yang lebih kuat dan lebih kecil.

Dengan demikian, kunci menjadi lebih ringan untuk dibawa. Kunci pada masa Romawi ini pulalah yang memberikan pengaruh besar pada kunci yang ada saat ini.

Sayangnya, karena berbahan dasar besi dan perunggu, harga kunci menjadi mahal kala itu. Karena harga tersebut, kunci pada era tersebut sebagai simbol kekayaan, pengaruh, dan kemuliaan.

Bahkan, kunci kecil yang terbuat dari logam (besi, perunggu, perak, atau emas) sering dipandang sebagai cara paling efektif untuk menunjukkan kekayaan secara terbuka.

Apalagi, pada masa tersebut, hanya orang sangat kaya yang mampu memiliki lemari atau pintu dengan mekanisme penguncian. Para orang kaya menggunakan kunci sebagai cincin mereka untuk menjaganya tetap aman sekaligus memamerkannya.

Abad Pertengahan

Desain kunci tersebut juga terus digunakan hingga 17 abad setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi. Hal ini bukan karena para ahli kunci di masa tersebut malas berinovasi, melainkan karena mereka lebih fokus untuk "menipu" para pencuri.

Pada masa ini, kunci masih dipandang sebagai simbol kekayaan. Tapi perbedaannya adalah, pada era ini untuk menunjukkan kekayaan, kunci dibuat dengan sangat besar.

Beberapa di antaranya bahkan mencapai panjang 31 sentimeter.

Beberapa abad kemudian, desain kunci mulai mengalami perubahan bentuk yang signifikan. Pada abad ke-14, misalnya, bentuk lekukan kunci lebih besar dan lebih rumit.

Selain itu, sekitar tahun 1.600-an, kepala kunci lebih banyak menggunakan ornamen yang menyerupai jendela katedral.

Zaman Modern

Sekitar tahun 1627, di Eropa, pembuatan kunci sedikit rumit. Itu karena pada waktu tersebut, kunci hanya dibuat oleh pengrajin dalam serikat yang mendedikasikan diri untuk kerajinan tersebut.

Masa tersebut, serikat memiliki aturan keras tentang siapa yang bisa membuat kunci dan untuk siapa. Bahkan, jika pengrajin nekad membuat kunci untuk orang yang tidak ditunjuk maka ia bisa digantung.

Selanjutnya, pada tahun 1.770-an, kunci menjadi ukuran otonomi dan privasi bagi wanita Perancis. Itu karena kebiasaan orang-orang kaya Perancis pada waktu tersebut adalah membeli meja, lemari, bahkan peti mati dengan laci rahasia untuk menyembunyikan barang berharga.

Meski memiliki berbagai macam fungsi lain dan desain yang berbeda, tapi kunci pada abad ke-17 tidak jauh lebih aman daripada pendahulunya di abad pertengahan.

Sekitar tahun 1.800-an, orang-orang di Eropa mulai terobsesi dengan keamanan. Apalagi saat itu revolusi industri menciptakan berbedaan kelas yang sangat terasa.

Akibatnya, orang-orang kelas menengah dan kaya menjadi sasaran pencuri. Masa inilah yang membuat kunci makin umum digunakan oleh siapa saja, di kalangan menengah ke atas.

Para pengrajin kunci juga mulai mengembangkan cara yang lebih praktis untuk mencegah pencuri saat itu. Mereka mengadaptasi beberapa teknologi yang digunakan pada abad kuno untuk membuat kunci yang lebih sulit dibobol.

Selanjutnya, pada 1865, desain kunci modern pertama kali dipatenkan oleh Linus Yale Jr. Kunci modern yang dimaksud adalah kunci pipih, yang berbeda dengan bentuk sebelumnya (mirip dengan tongkat).

Saat itu, Yale hanya ingin membuat kunci jauh lebih kecil dan lebih tipis agar lebih mudah dibawa.

Era Digital

Kunci buatan Yale hingga sekarang masih terus digunakan. Meski begitu, sepertinya era kunci jenis ini akan segera berakhir. Salah satu alasannya adalah munculnya kunci elektronik.

Kunci elektronik sendiri pertama kali diproduksi pada 1950-an. Bentuk dari kunci elektronik adalah kartu.

Saat ini penggunaannya masih sangat terbatas, yaitu di hotel atau perkantoran saja.

Tak hanya berbentuk kartu, kunci elektronik saat ini juga dikembangkan untuk remote keyless entry untuk mobil. Beberapa produsen kendaraan saat ini telah mengembangkan mobil yang bisa dibuka dan dinyalakan dengan remote saja, tanpa kunci (logam).

Perkembangan kunci tak sampai situ saja. Di era digital, para ilmuwan juga mengembangkan kunci dengan sistem elektronik.

Dengan memasukkan sandi, Anda bisa membuka pintu rumah, kantor, gawai, hingga kendaraan Anda.

Di samping itu, beberapa tahun belakangan juga dikembangkan kunci dengan memanfaatkan pemindai biometrik. Untuk membuka kunci, Anda hanya perlu memindai suara, sidik jari, retina mata, wajah, atau bahkan DNA saja.

Segera setelah terpindai, Anda bisa mengaskses pintu, gawai, brankas, bahkan kendaraan Anda. Kelebihan lainnya dari kunci dengan pemindai biometrik ini adalah kita tak lagi kehilangan "kunci".

Senin, 08 Januari 2018

Ujaran Kebencian Ancaman Nyata Bagi Demokrasi

Ujaran Kebencian Ancaman Nyata Bagi Demokrasi

Komisi Pemilihan Umum RI dan Bawaslu RI diimbau beker jasama dengan Polri untuk melakukan pengawasan dan penindakan atas terjadinya praktik diskriminasi dan ujaran kebencian dalam tahapan Pilkada 2018, utamanya dalam masa kampanye.

"Kami menemukan beberapa fakta dan fenomena yang mulai terjadi baik menjelang maupun sesudah memasuki tahapan kampanye," kata Wakil Ketua Komnas HAM, Hairansyah di kantornya, Jakarta, Kamis (22/2/2018).

Misalnya, seperti maraknya penggunaan media sosial yang berisi ujaran kebencian serta hoaks, seperti di Jawa Tengah dengan menyerang salah satu pasangan dengan menyebut Kristen berkedok Islam.

Tak cuma itu, peristiwa yang serupa juga terjadi di Tulung Agung, Jawa Timur dengan unggahan yang menyatakan, calon tertentu tidak pernah menunaikan ibadah salat Jumat. Sementara calon lainnya salat Jumat.

"Kami berpendapat bahwa fenomena tersebut menjadi ancaman nyata bagi proses demokrasi dan pelaksanaan HAM," kata dia.

Komnas HAM juga sadar, kombinasi banyaknya jumlah pemilih, luasnya wilayah pemilihan dan beragamnya calon kepala daerah, serta faktor masa kampanye yang cukup lama tak dipungkiri punya potensi terjadinya pelanggaran HAM.

"Berupa diskirminasi ras dan etnis serta agama. Maraknya ujaran kebencian itu jika tidak dikelola penanganannya dengan baik akan terjadi semakin masif," kata dia.

Komnas HAM juga mengingatkan, semua pihak harus memegang teguh dan melaksanakan komitmen kampanye damai tanpa hoaks dan diskriminasi yang hanya akan menimbulkan keresahan serta memecah belah masyarakat.

"Pendidikan politik harus terus dibangun dengan kesadaran memberikan akses yang luas kepada masyarakat untuk berkumpul, menyampaikan ekpresi dan mendapatkan informasi yang bermutu dalam muatan materi kampanye," kata dia.

Guna memberikan ruang partisipasi bagi publik untuk menyampaikan pengaduan dan temuan terkait dengan praktik diskirminasi, serta ujaran kebencian, Komnas HAM mendirikan pos pengaduan untuk menindaklanjuti aduan masyarakat tersebut.

"Pengaduan nanti bisa disampaikan melalui website, surat ataupun melalui kantor perwakilan Komnas HAM RI di beberapa daerah yang menyelenggarakan Pilkada 2018 seperti di Papua, Aceh, Kalimantan Barat, Maluku, Sulawesi Tengah dan Sumatera Barat," ungkap dia.