Kamis, 22 Februari 2018

ASI Keluar Sebelum Bayi Dilahirkan, Berbahayakah?

ASI Keluar Sebelum Bayi Dilahirkan

Dalam beberapa kasus, ada perempuan yang masih hamil, tetapi sudah mengeluarkan Air Susu Ibu ( ASI). Jika hal ini menimpa Anda, tidak usah panik.

Ameetha Drupadi, konselor laktasi yang praktik di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta, berkata bahwa hal ini bisa saja terjadi dan masih kategori normal. Pasalnya, sejak kehamilan memasuki usia 28 minggu, kelenjar susu memang telah aktif memproduksi ASI.

"Kelenjar susu akan membesar. Namun di beberapa orang yang kelebihan kelenjar susu, akan mengalir cairan bening dari payudara," katanya ditemui dalam acara peringatan Orami yang kelima tahun pada Rabu (21/2/2018) di Jakarta.

Ameetha melanjutkan, cairan yang dikeluarkan merupakan kelenjar bukan colostrum. ASI tetap akan mengalir pada hari pertama bayi lahir. Dengan demikian, ibu hamil tetap bisa melakukan inisiasi menyusui dini seusai melahirkan.

Para ibu juga dilarang untuk memijat area payudara karena dikhawatirkan akan timbul kontraksi. Saran Ameetha, payudara jangan diperah, cukup dengan kompres air panas.

"Keluarnya cairan mirip ASI itu bukan tanda kalau ibu nantinya akan memproduksi banyak ASI seusai melahirkan" sambungnya. 

Kapasitas produksi ASI, kata Ameetha, ditentukan oleh kebutuhan nutrisi bayi. Semakin banyak ASI yang dihisap bayi, kian bertambah pula ASI yang dihasilkan.

Selain itu, Ameetha menyarankan penguatan ikatan antara ibu dan anak dengan menyusui secara langsung. "Skin to skin akan mendorong keluarnya ASI dan kolostrum," ujarnya

Ratusan Titik Api Dalam 10 Hari Terakhir di Kalbar

Ratusan Titik Api Dalam 10 Hari Terakhir di Kalbar

Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siantan, Kalimantan Barat (Kalbar), mencatat 376 titik api dalam 10 hari terakhir di wilayah Kalbar.

Prakirawan BMKG Siantan, Prista mengungkapkan, sejak awal Februari lalu, ia telah mengeluarkan prospek iklim yang dapat dilihat pada website resmi iklim.kalbar.bmkg.go.id terkait dengan titik api yang ada di Kalbar.

Dalam website tersebut, disebutkan bahwa pada Februari 2018, prospek iklim di Kalimantan Barat akan mengering.

“Terpantau selama 10 hari itu ada 376 kejadian titik api,” ujar Prista, Kamis (22/2/2018). 

Jumlah titik api tersebut bukan berarti terjadi di 376 wilayah berbeda. Namun, titik api yang sama bisa saja terjadi secara berulang di tempat yang sama.

"Mungkin saja selama 10 hari itu di satu lokasi itu terus menerus terjadi titik api selama beberapa hari, nah itu terpantau. Jadi setiap harinya itu mungkin ada 30 sampai 50-an kejadian titik api," sebut Prista.

Terkait penyebab kurangnya curah hujan di wilayah Kalbar dalam 10 hari terakhir, Prista mengatakan, kondisi tersebut dikarenakan beberapa hal. Salah satunya suhu di sekitar perairan wilayah Kalbar menjadi mendingin.

"yang paling mencolok itu suhu perairan di sekitar wilayah Kalbar itu mendingin. Artinya suhu lebih rendah dari biasanya," jelasnya.

Akibat terjadinya perubahan suhu, secara otomatis tingkat penguapan menjadi berkurang, pembentukan awan berkurang, sehingga curah hujan juga menjadi berkurang.

Chee Keong, Pemain Legenda Sepakbola Malaysia Meninggal Dunia

Chee Keong, Pemain Legenda Sepakbola Malaysia Meninggal Dunia

Sepakbola Malaysia, Rabu (21/2/2018) kehilangan Chow Chee Keong yang pernah dijuluki penjaga gawang terbaik di Asia pada dekade 1960-an.

Chee Keong yang merupakan penjaga gawang timnas malaysia selama hampir dua puluh tahun, meninggal dalam usia 69  di Kuala Lumpur.  Ia meninggal di rumah sakit  University of Malaysia didampingi isteri dan anaknya.

Chee Keong yang kelahiran November 1948, memperkuat timnas Malaysia untuk pertamakali padfa turnamen  Asian Youth di Saigon 1964 di bawah pelatih legendaris Malaysia, Datuk Peter Velappan.

"Saya sedih mendengar kepergiannya. Saya tahu ia menderita kanker dalam dua tahun terakhir ini. Ia bukan saja seorang pemain, namun juga teman baik buat saya," kata Velappan yang juga pernah menjabat sebagai  Sekjen Asosiasi Sepakbola Malaysia dan Konfederasi sepakbola Asia (AFC).

"Ia merupakan pemain yang ambisius, suka tantangan dan memilih menjadi pemain profesional untuk bermain di Hong Kong. Karirnya di Hong Kong bagus dan ini menunjukkan karakter dia sebagai pemain profesional," lanjut Velappan.

Di Hong Kong,  Chee Keong sempat bermain untuk beberapa klub sepoerti South China, Tung Sing, Rangers dan Jardines. Pada 1967 ia sempat bermain di klub Liga Inggris, Bedford Town. Antara 1966-1970,  Chee Keong dipilih Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) sebagai penjaga gawang terbaik di Asia.

Chee Keong juga mendapat bayaran tinggi sebagai pemain profesional yang mencapai 2500 hingga 7000 dolar Hong Kong, lebih besar daripada bayaran yang diterima  pemain-pemain impor asal Inggris saat itu seperti Derek Currie dan Walter Gerrard. Di liga Hong Kong ini ia sempat menghadapi sejumlah pemain utama dunia seperti Pele (Brazil) dan Eusebio (Portugal),

Chee Keong mulai memperkuat timnas Malaysia  pada usia 15 tahun pada 1964.  Di sela kesibukannya sebagai pesepakbola yang bermain di luar negeri, Chee Keong memperkuat tim Malaysia termasuk saat tampil di Olimpiade Muenchen 1972. Ia menjadi penjaga gawang utama sampai munculnya figur R. Arumugam pada 1973.

Pada dekade 1960 hingga 1980-an, timnas Malaysia merupakan sebuah tim multirasial. Selain pemain-pemain ras melayu seperti Mukhtar Dahari, Shukor Saleh, pemain keturunan India seperti Santokh Singh,  R. Arumugam serta pemain-pemain keturunan China seperti Wong Choon Wah, Chow Chee Keong, James Wong dan Soh Chin Aun.

Susunan pemain multirasial inilah yang dilihat Peter Velappan sebagai dasar pembentukan timnas Malaysia yang kuat sehingga bisa tampil di Olimpiade 1972 dan 1980. "Kami memiliki banyak pemain berbakat dan mereka membuktikan dengan tampil di Muenchen dan Moskwa. Sejak itu, kami kehilangan semuanya, sistem pengembangan, sistem kepelatihan hingga kepemimpinan pada timnas Malaysia," kata Velappan.

"Kami memang kehilangan pemain sekaliber Mokhtar Dahari, tetapi di mana Arumugam,  Santokh Singh, Soh Chin Aun, Wong Chun Wah, Chow Chee Keong, Lim Teong Kim dan nama-nama lainnya? Di mana tim Malaysia yang multirasial?"

Soh Chin Aun, mantan kapten timnas Malaysia pada dekade 1970-1980-an mengenang Chee Keong sebagai satu penjaga gawang terbaik Malaysia. "Kami bermain bersama di timnas antara 1982-1984. Ia pulang dari Hong Kong  untuk bergabung dengan timnas. Ia adalah seorang yang berdedikasi  dan memberikan segalanya saat bermain buat Malaysia," kata Chin Aun.