Senin, 22 Januari 2018

Kunci & Evolusinya Merupakan Penemuan yang Mengubah Dunia

Kunci & Evolusinya Merupakan Penemuan yang Mengubah Dunia

Saat membaca artikel ini, hampir pasti Anda memiliki sebuah benda kecil, terbuat dari logam, dan berlekuk yang disebut dengan kunci. Ya, kunci memang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari manusia.

Meski kunci sering dianggap sebagai benda remeh, kehilangan kunci bisa menjadi "bencana". Itu karena kunci merupakan salah satu pengaman. Mulai dari pintu, kendaraan, hingga brankas memiliki kunci masing-masing.

Bentuk kunci pun kian beragam. Tak hanya berbahan logam, saat ini kartu, sidik jari, bahkan retina mata manusia bisa menjadi kunci.

Ini menandai bahwa kunci dari waktu ke waktu terus berkembang. Tapi, yang membuat penasaran adalah sejak kapan kunci digunakan?

Sejak ribuan tahun lalu, manusia selalu menginginkan sebuah kemampuan untuk melindungi barang berharga mereka. Tak hanya itu, saat itu banyak orang yang ingin menyimpan benda berharga di tempat yang tidak seorang pun bisa mengaksesnya.

Untuk itu, para ilmuwan menciptakan kunci pertama di dunia.

Zaman Kuno

Kunci pertama di dunia terbuat dari kayu yang tercipta sekitar 6.000 tahun lalu di Babilonia dan Mesir Kuno. Hal ini tertuang dalam sebuah lempengan tanah liat yang ditemukan oleh para arkeolog.

Sayangnya, kunci ini mudah rusak karena bahannya memang rentan. Ditambah lagi, pada gambar di lempengan tersebut, kunci berukuran sangat besar dan berat sehingga tidak praktis.

Selanjutnya, kunci kayu tersebut terus berkembang hingga ke Kerajaan Asiria, tepatnya di kota Khorasabad atau yang kini dikenal sebagai negara Irak. Kunci tersebut diperkirakan berasal dari tahun 704 Sebelum Masehi (SM).

Pada abad kuno, perkembangan kunci hanya menyebar dan melintasi wilayah Timur Tengah. Sebab, teknologi ini tak disukai oleh negara Barat saat itu.

Meski begitu, lama kelamaan kunci menyebar dari Mesir ke Yunani dan akhirnya ke Kaisaran Romawi. Di Romawi inilah kunci mengalami perubahan desain.

Orang Romawi tak lagi menggunakan kayu, melainkan besi dan perunggu. Pemilihan ini karena mereka ingin menciptakan kunci yang lebih kuat dan lebih kecil.

Dengan demikian, kunci menjadi lebih ringan untuk dibawa. Kunci pada masa Romawi ini pulalah yang memberikan pengaruh besar pada kunci yang ada saat ini.

Sayangnya, karena berbahan dasar besi dan perunggu, harga kunci menjadi mahal kala itu. Karena harga tersebut, kunci pada era tersebut sebagai simbol kekayaan, pengaruh, dan kemuliaan.

Bahkan, kunci kecil yang terbuat dari logam (besi, perunggu, perak, atau emas) sering dipandang sebagai cara paling efektif untuk menunjukkan kekayaan secara terbuka.

Apalagi, pada masa tersebut, hanya orang sangat kaya yang mampu memiliki lemari atau pintu dengan mekanisme penguncian. Para orang kaya menggunakan kunci sebagai cincin mereka untuk menjaganya tetap aman sekaligus memamerkannya.

Abad Pertengahan

Desain kunci tersebut juga terus digunakan hingga 17 abad setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi. Hal ini bukan karena para ahli kunci di masa tersebut malas berinovasi, melainkan karena mereka lebih fokus untuk "menipu" para pencuri.

Pada masa ini, kunci masih dipandang sebagai simbol kekayaan. Tapi perbedaannya adalah, pada era ini untuk menunjukkan kekayaan, kunci dibuat dengan sangat besar.

Beberapa di antaranya bahkan mencapai panjang 31 sentimeter.

Beberapa abad kemudian, desain kunci mulai mengalami perubahan bentuk yang signifikan. Pada abad ke-14, misalnya, bentuk lekukan kunci lebih besar dan lebih rumit.

Selain itu, sekitar tahun 1.600-an, kepala kunci lebih banyak menggunakan ornamen yang menyerupai jendela katedral.

Zaman Modern

Sekitar tahun 1627, di Eropa, pembuatan kunci sedikit rumit. Itu karena pada waktu tersebut, kunci hanya dibuat oleh pengrajin dalam serikat yang mendedikasikan diri untuk kerajinan tersebut.

Masa tersebut, serikat memiliki aturan keras tentang siapa yang bisa membuat kunci dan untuk siapa. Bahkan, jika pengrajin nekad membuat kunci untuk orang yang tidak ditunjuk maka ia bisa digantung.

Selanjutnya, pada tahun 1.770-an, kunci menjadi ukuran otonomi dan privasi bagi wanita Perancis. Itu karena kebiasaan orang-orang kaya Perancis pada waktu tersebut adalah membeli meja, lemari, bahkan peti mati dengan laci rahasia untuk menyembunyikan barang berharga.

Meski memiliki berbagai macam fungsi lain dan desain yang berbeda, tapi kunci pada abad ke-17 tidak jauh lebih aman daripada pendahulunya di abad pertengahan.

Sekitar tahun 1.800-an, orang-orang di Eropa mulai terobsesi dengan keamanan. Apalagi saat itu revolusi industri menciptakan berbedaan kelas yang sangat terasa.

Akibatnya, orang-orang kelas menengah dan kaya menjadi sasaran pencuri. Masa inilah yang membuat kunci makin umum digunakan oleh siapa saja, di kalangan menengah ke atas.

Para pengrajin kunci juga mulai mengembangkan cara yang lebih praktis untuk mencegah pencuri saat itu. Mereka mengadaptasi beberapa teknologi yang digunakan pada abad kuno untuk membuat kunci yang lebih sulit dibobol.

Selanjutnya, pada 1865, desain kunci modern pertama kali dipatenkan oleh Linus Yale Jr. Kunci modern yang dimaksud adalah kunci pipih, yang berbeda dengan bentuk sebelumnya (mirip dengan tongkat).

Saat itu, Yale hanya ingin membuat kunci jauh lebih kecil dan lebih tipis agar lebih mudah dibawa.

Era Digital

Kunci buatan Yale hingga sekarang masih terus digunakan. Meski begitu, sepertinya era kunci jenis ini akan segera berakhir. Salah satu alasannya adalah munculnya kunci elektronik.

Kunci elektronik sendiri pertama kali diproduksi pada 1950-an. Bentuk dari kunci elektronik adalah kartu.

Saat ini penggunaannya masih sangat terbatas, yaitu di hotel atau perkantoran saja.

Tak hanya berbentuk kartu, kunci elektronik saat ini juga dikembangkan untuk remote keyless entry untuk mobil. Beberapa produsen kendaraan saat ini telah mengembangkan mobil yang bisa dibuka dan dinyalakan dengan remote saja, tanpa kunci (logam).

Perkembangan kunci tak sampai situ saja. Di era digital, para ilmuwan juga mengembangkan kunci dengan sistem elektronik.

Dengan memasukkan sandi, Anda bisa membuka pintu rumah, kantor, gawai, hingga kendaraan Anda.

Di samping itu, beberapa tahun belakangan juga dikembangkan kunci dengan memanfaatkan pemindai biometrik. Untuk membuka kunci, Anda hanya perlu memindai suara, sidik jari, retina mata, wajah, atau bahkan DNA saja.

Segera setelah terpindai, Anda bisa mengaskses pintu, gawai, brankas, bahkan kendaraan Anda. Kelebihan lainnya dari kunci dengan pemindai biometrik ini adalah kita tak lagi kehilangan "kunci".
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar